Model Penelitian Filsafat Islam

Keberagaman dalam beragama sudah ada dan terjadi selama agama itu ada. Begitupun dalam Islam, terdapat banyak perbedaan fiqhiyah baik antar madzhab maupun yang tidak bermadzhab. Kebanyakan perbedaan-perbedaan itu banyak berkonstribusi dalam terputusnya tali Ukhuwah Islamiyah antar golongan.

Filsafat Islam merupakan salah satu bidang studi Islam yang keberadaannya telah menimbulkan pro dan kontra. Sebagian masyarakat melarang untuk mempelajari filsafat dengan dalih akan melemahkan iman. Sebagian yang lain berpendapat bahwa filsafat adalah penting untuk menemukan hakikat dalam beragama.

Agama dan filsafat memainkan peran yang penting dalam sejarah kehidupan manusia. Tidak dapat dipungkiri bahwa peran keduanya merubah cara pandang manusia terhadap segala sesuatu. Dalam hal ini agama dan filsafat adalah dua kesatuan yang sebenarnya tidak boleh dipisahkan. Karena agama mewajibkan kita untuk mencari hakikat atau kebenaran sejati dalam hal ini dalam tuntunan wahyu. Demikian juga filsafat bertujuan untuk menemukan kebenaran sejati tentang segala sesuatu meskipun belum final sampai ajal menghampiri “sang pemikir” tersebut.

Para pemikir yang berwawasan dangkal berpendapat bahwa agama sangat berbeda dengan filsafat, dan tidak boleh dinodai dengan pikiran-pikiran manusiawi dan tidak boleh dicampuri dengan filsafat. Namun, pembedaan ini sepertinya tidak pernah berhasil dengan banyaknya pemikiran-pemikiran filsafat Islam serta banyaknya kajian tentang filsafat dalam Islam di berbagai lembaga kajian dan Universitas-universitas Islam.

Jika kita berpikir bahwa ajaran Islam adalah doktrin yang tidak boleh dinalar sesuai dengan akal pikiran yang lurus, apa bedanya dengan agama selain Islam yang menjejalkan secara paksa dogma ajaran-ajaran agamanya meski tidak sesuai dengan logika. Namun demikian, dalam berfilsafat kita juga harus meyakini hakikat otak dan kapasitas berpikir manusia yang sangat terbatas. Sehingga kita dapat menyadari bahwa hakikat sesuatu belum tentu sama dengan hasil pemikiran manusia. Dan mengembalikan apa yang tidak dapat dijangkau oleh akal manusia kepada wahyu.

Jika agama membahas tentang segala sesuatu di alam dengan tujuan segala sesuatu yang maujud, lantas pada sisi mana terdapat pertentangan antara agama dan filsafat. Bahkan agama dapat memberikan asumsi-asumsi penting sebagai subyek penelitian filsafat. Filsafat dapat menjadi alat untuk memahami dan mencari kebenaran tentang ajaran agama jika pemeluknya selalu menuntut dirinya untuk memahami ajaran dan keyakinan agamanya secara rasional. Dengan demikian filsafat tidak lagi menjadi “musuh” agama, namun menjadi alat untuk menguak tabir dan ma’rifat terhadap rahasia dan doktrin-doktrin suci agama. Dengan demikian, pasti akan bertambah penghayatan seorang muslim kepada agamanya.

Dengan satu ungkapan dapat dikatakan bahwa filosof agama mestilah dari penganut dan penghayat agama itu sendiri. Lebih jauh, filosof-filosof hakiki adalah pencinta-pencinta agama yang hakiki. Sebenarnya yang mesti menjadi subyek pembahasan di sini adalah agama mana dan aliran filsafat yang bagaimana memiliki hubungan keharmonisan satu sama lain. Adalah sangat mungkin terdapat beberapa ajaran agama, karena ketidaksempurnaannya, bertolak belakang dengan kaidah-kaidah filsafat, begitu pula sebaliknya, sebagian konsep-konsep filsafat yang tidak sempurna berbenturan dengan ajaran agama yang sempurna. Karena asumsinya adalah agama yang sempurna bersumber dari hakikat keberadaan dan mengantarkan manusia kepada hakikat itu, sementara filsafat yang berangkat dari rasionalitas juga menempatkan hakikat keberadaan itu sebagai subyek pengkajiaannya, bahkan keduanya merupakan bagian dari substansi keberadaan itu sendiri. Keduanya merupakan karunia dari Tuhan yang tak dapat dipisah-pisahkan. Filsafat membutuhkan agama (wahyu) karena ada masalah-masalah yang berkaitan dengan dengan alam gaib yang tak bisa dijangkau oleh akal filsafat. Sementara agama juga memerlukan filsafat untuk memahami ajaran agama. Berdasarkan perspektif ini, adalah tidak logis apabila ajaran agama dan filsafat saling bertolak belakang. (http://telagahikmah.org/id/index.php?option=com_content&task=view&id=93&Itemid=44:2012)

Filsafat berasal dari istilah bahasa Yunani, “Philosophia”. “Philos” berarti sahabat, teman, mencintai, dan  “Sophia”  berarti kebijaksanaan, ilmu pengetahuan, hikmah. Jadi filasat berarti  cinta kepada kebijaksanaan.

Adapun menurut beberapa ahli definisi filsafat adalah:

  1. Menurut Pudjo Sumedi AS., Drs. M.Ed dan Mustakin,S.Pd,MM,

Istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani: “Philosophia”. Seiring perkembangan jaman akhirnya dikenal juga dalam berbagai bahasa, seperti: “philosophic” dalam kebudayaan bangsa Jerman, Belanda dan Perancis; “Philosophy” dalam bahasa inggris; “philosophia” dalam bahasa latin; “falsafah” dalam bahasa arab.

  1. Menurut Plato

Filsafat adalah pengetahuan yang berminat mencapai pengetahuan kebenaran yang asli

  1. Menurut Al-Farabi

Filsafat adalah ilmu (pengetahuan) tentang alam maujud bagaimana hakikat sebenarnya.

(http://consumptive.net:2012)

  1. Sidi Gazalba

Berfilsafat ialah mencari kebenaran dari kebenaran untuk kebenaran, tentang segala sesuatu yang dipermasalahkan, dengan berfikir radikal, sistematik dan universal.

  1. Prof. Mr. Muhammad Yamin

Filsafat ialah pemusatan pikiran,sehingga manusia menemui kepribadiannya seraya di dalam kepribadiannya itu dialaminya kesungguhan.

(Agus Purwadi: 2012)

Dengan demikian filsafat adalah satu disiplin ilmu yang membahas tentang hakikat sesuatu dengan cara berpikir secara radikal, mendasar, penuh kesungguhan dan sistematis sehingga menemukan hakikat sesuatu tersebut.

Sedangkan agama secara harfiah bahasa arab ad-Din berasal dari day a na. dalam kamus tradisonal kata tersebut mempunyai banyak makna, diantaranya:

  1. Dain/ qardl bermakna hutang. Dengan penegertian bahwa wujud manusia di dunia ini adalah hutang yang perlu dibayar (lih. QS. AL-Baqarah:245)
  2. Maddana, dari kata inilah lahir istilah madani dan madinah. Madddana bermakna membangun dan bertamaddun, oleh karena itu instilah madani  hanya untuk masyarakat yang beragama bukan masyarakat sekuler.
  3. Kata danaa memiliki makna kerajaan. Konsep ini berkaitan dengan tauhid uluhiyyah yang merupakan esensi terpenting dalam Islam.
  4. Pengertian lain bermakna kecenderungan. Sudah menjadi fitrah manusia untuk percaya kepada perkara yang supernatural dan metafisika. Percaya adanya Tuhan yang maha kuasa mengatur alam semesta raya.

Dari beberapa pengertian di atas, agama menurut Islam adalah cara hidup, cara berpikir, berideologi, dan bertindak. Agama meliputi system politik, ekonomi, social dan budaya. Hal ini berbeda dengan pandangan filsuf-filsuf barat yang mengartikan agama tidak lebih dari konsep morality. Ada juga yang mengartikan agama hanya menyentuh hal-hal ruhaniyyah saja. Bahkan ada yang menganggap bahwa agama merupakan ritual/upacara penyembahan.

3.2 Faktor-faktor yang melatarbelakangi filsuf Islam untuk mengajukan wacana sinkretisme antara agama dan filsafat

Islam sebagai agama moderat senantiasa menganjurkan jalan pertengahan (tawasuth). Karenanya, dapat diketahui bahwa semangat pemaduan dan pertengahan merupakan salah satu corak pemikiran kaum Muslimin dalam berbagai lapangan kehidupan. Setiap kali ada aliran-aliran yang berlawanan, tentu akan timbul penengahnya, seperti ditunjukkan dalam sejarah aliran dan pemikiran dalam Islam. Aliran Asy’ariyah dalam ilmu kalam dapat dikatakan merupakan aliran pertengahan dari golongan yang memegangi tekstual bunyi nash tanpa mengemukakan penafsiran rasional, dengan aliran Mu’tazilah yang mempertahankan kebebasan akal sepenuhnya dalam memahami nash dan penafsirannya. Dalam lapangan hukum Islam, madzhab Syafi’i merupakan madzhab pertengahan yang terletak diantara Madzhab Maliki yang mendasari pendapatnya kepada Hadits sesudah Qur’an (ahlu al-Hadits), dengan madzhab Hanafi yang mendasari pendapat-pendapatnya kepada pikiran dan ijtihad (ahlu al-ra’yi).
Di samping itu, terdapat juga beberapa faktor lain yang mendorong pemaduan antara agama dengan filsafat, yaitu :
1. Adanya jurang pemisah yang dalam antara Islam dengan filsafat Aristoteles dalam berbagai persoalan, seperti sifat-sifat Tuhan dan ciri-ciri Nya, Qadimnya alam, hubungan alam dengan Tuhan, keabadian jiwa, dan lain sebagainya.
2. Adanya serangan yang banyak dilancarkan oleh kalangan agamawan terhadap setiap pembahasan pikiran yang tidak membawa hasil yang sesuai dengan akidah yang telah ditetapkan sebelumnya. Sikap ini sering diikuti dengan tekanan-tekanan yang dilakukan oleh rakyat banyak dan penguasa-penguasa terhadap para filosof.
3. Hasrat para filosof sendiri untuk dapat menyelamatkan diri dari tekanan-tekanan tersebut agar mereka bisa bekerja dengan tenang dan tidak terlalu nampak pertentangannya dengan agama.
(http://newuke8554.blogspot.com/2009/06/hubungan-agama-filsafat-menurut-ibnu.html:2012)

4. Berkembangnya rasionalitas masyarakat yang menyebabkan revolusi ilmu pengetahuan.

5. Adanya kebutuhan keselarasan antara agama dan sains.

6. Kebenaran sejati adalah dari Allah, untuk menemukan dan menerima kebenaran sejati tidak serta merta menerima namun harus melalui pemikiran yang sungguh-sungguh dan radikal sehingga apa yang ditetapkan oleh agama dapat diterima dengan akal sehat.

3.3 Pandangan tokoh filsuf Islam terkait dengan pemaduan filsafat dengan agama

Secara fithrah manusia dilahirkan telah diberikan akal sebagai alat penimbang antara baik dan buruk, bagus dan jelek, dsb. Dengan akal tersebut-lah manusia berfilsafat. Namun demikian, tidak dapat dinafikan bahwa akal manusia terbatas pada ketidakterbatasa alam semesta sebagai salah satu obyek penelitian filsafat. Oleh karena itu, Allah sebagai pencipta manusia dan pemberi akal tersebut menurunkan wahyu (agama) untuk menuntun akal manusia menuju kebenaran hakiki.

Menurut Ibnu Rusyd, berfilsafat dalam Islam merupakan suatu keharusan. Menurut beliau dalam karyanya Fashl al-Maqaal, filsafat berfungsi untuk mengadakan penyelidikan tentang alam wujud dan memandangnya sebagai jalan untuk menemukan Zat yang membuatnya. Dalam Al-Qur’an Surat Al-A’raaf ayat 185 dan surat Al-Hasyr ayat 2

Kedua ayat tersebut mengandung perintah I’tibar dan nazhar. Kedua ayat tersebut secara tegas memerintahkan untuk mengambil qiyas aqli atau qiyas aqli dan qiyas syar’i bersama-sama. I’tibar dan nazhar yang dimaksudkan dalam kedua ayat tersebut tidak lain adalah pengambilan sesuatu hukum yang belum diketahui (majhul) dari sesuatu yang telah diketahui (ma’lum). Ini berarti, penyelidikan alam wujud tidak bisa tidak, mesti menggunakan qiyas aqli. Karena itu, penyelidikan yang bersifat filosofi menjadi suatu kewajiban.

Argumentasi Ibnu Rusyd tersebut, dapat dipahami secara logika, dengan mengikuti premis–premis yang disusun oleh Al-‘Iraqiy sebagai berikut :

Premis minor :
Penyelidikan filsafat secara nazhari aqli di alam ini bertujuan untuk mencapai ma’rifah kepada pembuatnya, yaitu Allah.

Premis mayor :
Agama memerintahkan dan mewajibkan manusia untuk memperhatikan dan memikirkan penciptaan di alam ini agar manusia mengenal Tuhannya (Allah)

Konklusi :
Pengkajian filsafat dalam kerangka diatas adalah kewajiban, sepanjang kemampuan, yaitu dengan metode burhan (demontrasi)

Kalau seorang faqih berdasarkan ayat tersebut menetapkan adanya qiyas syar’i, maka berdasarkan ayat tersebut pula seorang filosof lebih berhak lagi untuk menetapkan adanya qiyas aqli. Bila dikatakan qiyas aqli adalah sebuah bid’ah, maka demikian pula halnya dengan qiyas syar’i, karena keduanya tidak terdapat pada masa permulaan Islam. Kalau pengambilan qiyas aqli diwajibkan oleh Syara’ maka seorang ahli pikir harus mempelajari logika dan filsafat. Untuk itu, karena filsafat telah berkembang sebelumnya dengan tokoh-tokoh seperti Plato dan Aristoteles, maka mempelajari pemikiran para filosof terdahulu tersebut adalah suatu keniscayaan. Tidaklah mungkin bagi orang-orang yang datang kemudian membangun filsafat yang baru sama sekali dengan meninggalkan pemikiran-pemikiran filsafat yang telah berkembang sebelumnya.

Para filosof Islam bersepakat bahwa akal dan wahyu keduanya menjadi sumber pengetahuan dan alat untuk mencapai kebenaran. Akan tetapi, dalam Qur’an dan Hadits, terdapat banyak nash yang secara lahir bertentangan dengan filsafat. Bagi Ibnu Rusyd, nash-nash tersebut dapat dita’wilkan sepanjang memenuhi aturan-aturan ta’wil dalam bahasa Arab, seperti halnya lafazh-lafazh dari Syara’ dapat pula dita’wilkan dari segi aturan fiqh. Karena itu, para ulama sepakat bahwa tidak semua kata-kata yang datang dari Syara’ diartikan menurut lahirnya, tidak pula harus dikeluarkan semuanya dari arti lahirnya, tetapi menggunakan makna batinnya. Penafsiran (pena’wilan) semacam inilah dipakai oleh ulama-ulama fiqh dan para filosof.

Dengan demikian, ada arti lahir dan arti batin. Bila arti lahir sesuai dengan hasil pemikiran, maka arti ini harus diambil dan kalau berlawanan maka harus dicari pena’wilannya. Arti ta’wil adalah mengeluarkan sesuatu kata dari arti yang sebenarnya kepada arti yang majazi (allegorik).
Rangkapnya arti tersebut, dikarenakan perbedaan pandangan orang dan kemampuannya untuk mempercayai. Manusia dalam hal ini terdiri dari tiga golongan, sesuai dengan pembagian qiyas, yaitu golongan pemakai qiyas burhani, qiyas jadali, dan qiyas khithabi.

Qiyas burhani adalah qiyas yang terdiri dari dasar-dasar pikiran (premis) yang yakin dan berpijak pada hukum-hukum aksioma. Karena itu, qiyas tersebut memiliki konklusi yang meyakinkan, dan itulah qiyas yang sebenar-benarnya dan lazim dipakai dalam dunia pemikiran filsafat.
Ibnu Rusyd meletakkan beberapa aturan sebagai pegangan dalam melakukan ta’wil, yaitu :

  1. Setiap orang harus menerima prinsip-prinsip Syara’ dan mengikutinya, serta menginsyafi bahwa Syara’ melarang untuk memperkatakan hal-hal yang tidak disinggung olehnya.
  2.  Yang berhak mengadakan ta’wil hanyalah golongan filosof semata, bahkan filosof tertentu saja, yaitu mereka yang mendalam ilmunya. Ta’wil ini tidak boleh dilakukan oleh ulama-ulama fiqh, termasuk juga ulama-ulama mutakallimin, karena keterbatasan ilmunya dan berbeda-beda pendapatnya, bahkan mereka telah menyebabkan terjadinya perpecahan dan timbulnya golongan-golongan dalam Islam.
  3.  Hasil pena’wilan hanya dapat dikemukakan kepada golongan pemakai qiyas burhani, yaitu para filosof, bukan kepada kepada orang awam karena orang awam hanya mengetahui arti lahirnya nash.
  4. Kaum Muslimin bersepakat bahwa dalam Syara’ ada tiga bagian, yaitu : Bagian yang harus diartikan menurut lahirnya; bagian yang harus dita’wilkan; dan bagian yang masih diperselisihkan. Dalam hal pena’wilan terhadap sesuatu yang sudah disepakati untuk diartikan menurut lahirnya ataupun pengartian menurut lahirnya dari sesuatu yang semestinya dita’wilkan, diperlukan ijma’ kaum muslimin.
    (http://newuke8554.blogspot.com/2009/06/hubungan-agama-filsafat-menurut-ibnu.html:2012)

Dari ulasan diatas dapat disimpulkan bahwa antara filsafat dan agama terdapat korelasi atau hubungan yang erat. Namun demikian banyak yang menafikan hubungan ini, karena keterbatasan wawasan dan pengertian akan filsafat. Berdasarkan banyak definisi filsafat diatas, berfilsafat merupakan kegiatan berpikir logis yang dilakukan secara radikal dan sistematis untuk mengetahui kebenaran hakiki akan segala sesuatu yang maujud. Sebagai tujuannya adalah keberadaan Allah sebagai Tuhan semesta alam dan ini merupakan apa yang diperintahkan Allah sendiri untuk beri’tibar kepada alam semesta demi mengetahui penciptanya.

DAFTAR RUJUKAN

Anthony Giddens, Kapitalisme dan teori sosial modern: suatu analisis karya-tulis Marx, Durkheim dan Max Weber, diterjemahkan oleh Soeheba Kramadibrata, Jakarta: UI-Press, 1986.

http://newuke8554.blogspot.com/2009/06/hubungan-agama-filsafat-menurut-ibnu.html, 2012

http://consumptive.net:2012

http://telagahikmah.org/id/index.php?option=com_content&task=view&id=93&Itemid=44:2012

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s