Iptek dalam Islam:Harapan dan Kenyataan

BAB I

PENDAHULUAN

Kemajuan Ilmu pengetahuan dan teknologi dunia, yang kini dipimpin oleh peradaban Barat satu abad terakhir ini, mencegangkan banyak orang di pelbagai penjuru dunia. Kesejahteraan dan kemakmuran material (fisikal) yang dihasilkan oleh perkembangan Iptek modern tersebut membuat banyak orang lalu mengagumi dan meniru-niru gaya hidup peradaban Barat tanpa dibarengi sikap kritis terhadap segala dampak negatif dan krisis multidimensional yang diakibatkannya.

Kemajuan Iptek di Barat, yang didominasi oleh pandangan dunia dan paradigma sains (Iptek) yang positivistik-empirik sebagai anak kandung filsafat-ideologi materialisme-sekuler, pada akhirnya juga telah melahirkan penderitaan dan ketidakbahagiaan psikologis/ruhaniah pada banyak manusia baik di Barat maupun di Timur.

Negara-negara yang berpenduduk mayoritas Muslim, saat ini pada umumnya adalah negara-negara berkembang atau negara terkebelakang, yang lemah secara ekonomi dan juga lemah atau tidak menguasai perkembangan ilmu pengetahuan dan sains-teknologi. Karena nyatanya saudara-saudara Muslim kita itu banyak yang masih bodoh dan lemah, maka mereka kehilangan harga diri dan kepercayaan dirinya. Beberapa di antara mereka kemudian menjadi hamba budaya dan pengikut buta kepentingan negara-negara Barat. Mereka menyerap begitu saja nilai-nilai, ideologi dan budaya materialis (’matre’) dan sekular (anti Tuhan) yang dicekokkan melalui kemajuan teknologi informasi dan media komunikasi Barat. Akibatnya krisis-krisis sosial-moral dan kejiwaan pun menular kepada sebagian besar bangsa-bangsa Muslim.

Kenyataan memprihatikan ini sangat ironis. Umat Islam yang mewarisi ajaran suci Ilahiah dan peradaban dan Iptek Islam yang jaya di masa lalu, justru kini terpuruk di negerinya sendiri, yang sebenarnya kaya sumber daya alamnya, namun miskin kualitas sumberdaya manusianya (pendidikan dan Ipteknya). Ketidakadilan global ini terlihat dari fakta bahwa 80% kekayaan dunia hanya dikuasai oleh 20 % penduduk kaya di negara-negara maju. Sementara 80% penduduk dunia di negara-negara miskin hanya memperebutkan remah-remah sisa makanan pesta pora bangsa-bangsa negara maju.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    HARAPAN ISLAM TERHADAP ILMU PENGETAHUAN

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, teknologi diartikan sebagai kemampuan teknik yang berlandaskan pengetahuan ilmu eksakta dan berdasarkan proses teknis. Teknologi adalah ilmu tentang cara menerapkan sains untuk memanfaatkan alam bagi kesejahteraan dan kenyamanan manusia.

Islam adalah satu-satunya agama samawi yang memberikan perhatian yang khusus terhadap ilmu pengetahuan. Dimana ilmu pengetahuan hanya dapat dicapai dengan jalan belajar. Hal ini disyaratkan dalam wahyu pertama yang diturunkan, yaitu:

اقرأ باسم ربك الذي خلق(1)خلق الإنسان من علق(2(اقرأ وربك الأكرم(3(الذي علم بالقلم(4(علم الإنسان ما لم يعلم(5)كلا إن الإنسان ليطغى((6

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Setiap muslim dan muslimah wajib menuntut ilmu” (Fazul-Ul-Karim, 1971, hal. 20)

Perintah Nabi di atas membawa konsekuensi hukum, bahwa menuntut ilmu adalah suatu kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap orang Islam. Kewajiban ini telah disepakati oleh semua ahli hukum Islam baik dari kalangan tradisional maupun modernis.

Sungguhpun demikian, menuntut ilmu pengetahuan tidak terbatas bersumber pada al-Qur’an dan sunnah Nabi. Dianjurkan agar mereka (umat Islam) menuntut ilmu pengetahuan di negara-negara yang kadar ilmu pengetahuannya sangat luas dan tinggi. Dalam al-Qur’an Allah menegaskan bahwa ilmu pengetahuan adalah cara terbaik dan terpenting yang bisa menuntun kepada iman. Bahkan Allah juga menegaskan bahwa mencari ilmu pengetahuan adalah suatu sarana untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Lebih lanjut ditegaskan pula bahwa mencari ilmu pengetahuan merupakan perilaku agung yang bisa mengangkat nilai dan status derajat seseorang yang melakukannya:

يا أيها الذين آمنوا إذا قيل لكم تفسحوا في المجالس فافسحوا يفسح الله لكم وإذا قيل انشزوا فانشزوا يرفع الله الذين آمنوا منكم والذين أوتوا العلم درجات والله بما تعملون خبير

Salah satu keagungan nikmat yang dikaruniakan Allah bagi umat Nabi Muhammad SAW ialah nikmat ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan sains dan teknologi telah memberikan kemudahan-kemudahan dan kesejahteraan bagi kehidupan manusia sekaligus merupakan sarana bagi kesempurnaan manusia sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya karena Allah telah mengaruniakan anugerah kenikmatan kepada manusia yang bersifat saling melengkapi yaitu anugerah agama dan kenikmatan sains teknologi. Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan dua sosok yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ilmu merupakan sumber teknologi yang mampu memberikan kemungkinan munculnya berbagai penemuan rekayasa dan ide-ide. Adapun teknologi merupakan terapan atau aplikasi dari ilmu yang dapat ditunjukkan dalam hasil nyata yang lebih canggih dan dapat mendorong manusia untuk berkembang lebih maju lagi.

Peradaban modern adalah hasil kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang gemilang telah dicapai oleh manusia setelah diadakan penelitian yang tekun dan eksperimen yang mahal yang telah dilakukan selama berabad-abad. Maka sudah sepantasnya kalau kemudian manusia menggunakan penemuan-penemuannya itu guna meningkatkan taraf hidupnya. Kemajuan teknologi secara umum telah banyak dinikmati oleh masyarakat luas dengan cara yang belum pernah dirasakan bahkan oleh para raja dahulu kala. Tampaknya manusia di masa depan akan mencapai taraf kemakmuran yang lebih tinggi dan memperoleh kemudahan-kemudahan yang lebih banyak lagi.

Agama Islam tidak menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, juga tidak anti terhadap barang-barang produk teknologi baik di zaman lampau, di masa sekarang maupun di waktu-waktu yang akan datang. Demikian pula ajaran Islam tidak akan bertentangan dengan teori-teori pemikiran modern yang teratur dan lurus dan analisa-analisa yang teliti dan obyektif.

Sebaliknya agama Islam mendukung dan mendorong manusia untuk lebih mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi agar dapat memakmurkan bumi sebagaimana tugas manusia menjadi khalifah Allah di bumi. Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi manusia dapat menembus sekat-sekat dan keterbatasan manusia pada era sebelumnya. Pada Surat Ar-Rahman dijelaskan ayat 33:

يا معشر الجن والإنس إن استطعتم أن تنفذوا من أقطار السماوات والأرض فانفذوا لا تنفذون إلا بسلطان

Namun demikian sebagai pemegang kunci ilmu pengetahuan dunia ini (Al-Quran), masyarakat muslim pada saat ini masih berada dalam keterpurukan dunia dan terpinggir menjadi negara miskin dan berkembang.

  1. B.     KENYATAAN MASYARAKAT ISLAM DALAM ILMU PENGETAHUAN

Perkembangan Sains dan Teknologi kian hari terasa semakin pesat. Bahkan telah diakui dapat membawa suatu perubahan besar dalam peradaban manusia. Banyak hasil dari perkembangan Sains dan Teknologi yang tadinya masih diluar angan-angan manusia kini sudah menjadi keperluan harian mereka. Contoh yang paling dekat adalah teknologi transportasi yang demikian cepat, dalam jangka waktu kurang dari 100 tahun, manusia sudah menemukan teknologi untuk terbang keluar angkasa, menciptakan pesawat yang lebih cepat dari suara, juga teknologi kapal selam. Dari segi Informasi, sains dan teknologi juga mengalami kemajuan luar biasa. Penyampaian informasi yang dahulu memerlukan waktu hingga berbulan-bulan, kini dengan adanya telepon, handphone, faxsimile, internet, dapat sampai ke tujuan hanya dalam beberapa detik saja, bahkan pada masa yang (hampir) bersamaan.  Perkembangan dalam bidang lainpun seperti material, alat-alat transportasi, alat-alat rumah tangga, bioteknologi, kedokteran dan lain – lain maju dengan begitu pesat.

Kita harus mengakui bahwa sains dan teknologi telah mengambil peranan penting dalam pembangunan peradaban material atau lahiriah manusia. Penemuan-penemuan tersebut telah memberikan bermacam-macam kemudahan pada manusia, mulai dari transportasi, komunikasi, ilmu pengetahuan, kesehatan, rekayasa genetika, dan masih banyak lagi.

Tetapi sangat disayangkan sampai saat ini, kebanyakan ummat Islam masih menjadi pengguna/konsumen produk sains, teknologi dan industri yang ditemukan atau dibuat oleh saintis, teknolog dan industrialis bukan Islam. Produksi umat Islam masih berbasiskan sumber daya alam yang mempunyai nilai tambah (added value) yang rendah, belum berbasis sains dan teknologi yang mempunyai nilai tambah yang tinggi. Begitu juga dengan para Ilmuwan dan teknolog Islam belum menjadi satu kelompok yang maju, berilmu pengetahuan dan berteknologi tinggi yang bisa menjadi rujukan dan tempat konsultasi para Ilmuwan, saintis dan teknolog dunia lainnya. Justru yang terjadi adalah banyak orang Islam yang belajar, mengkaji dan meneliti berbagai bidang sains dan teknologi dengan berguru kepada para Ilmuwan barat di Eropa, Amerika, Australia dan lain-lain. Karya-karya ilmiah para ilmuwan, saintis dan teknolog Islam masih terlalu sedikit jika dibandingkan dengan barat. Penguasaan teknologi dalam masyarakat Islam masih rendah. Produk-produk industri buatan umat Islam masih terlalu sedikit dan berdaya saing rendah, sehingga masyarakat Islam kurang dapat memberi manfaat kepada masyarakat dunia.

Banyak ilmuwan, pakar sains dan teknolog Islam mencoba untuk mencari akar permasalahan ini dan kemudian mencoba untuk menyelesaikannya. Misalnya Prof. Dr. Abdus Salam yang pernah mendapat hadiah Nobel dalam bidang Fisika pada tahun 1978 M., dari dalam negeri, Prof. Dr. Ahmad Baiquini mantan Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Nasional Indonesia (1973M.-1984 M.) dan Prof. Dr.-Ing. BJ Habibie yang pernah menjadi Menteri Riset dan Teknologi Indonesia selama 20 tahun (1978M.- 1997 M.). Tetapi nampaknya mereka masih belum menyentuh akar permasalahan yang sebenarnya, hanya menyentuh masalah-masalah di permukaan yang lebih bersifat material dan lahiriah.

Menurut Prof. Dr. Abdus Salam, ”Umat Islam tertinggal dalam bidang sains dan teknologi karena beberapa sebab diantaranya: Tidak mempunyai komitmen terhadap sains, baik sains terapan maupun sains murni, tidak memiliki hasrat yang kuat untuk mengusahakan tercapainya kemandirian sains dan teknologi (self reliance), tidak membangunkan kerangka institutional dan legal yang cukup untuk mendukung perkembangan sains dan menerapkan cara yang tidak tepat dalam menjalankan manajemen kegiatan di bidang sains dan teknologi.” Salam menawarkan beberapa solusi, sebagaimana yang dikatakannya dalam kata pengantar buku Islam dan Sains, pertarungan menegakkan rasionalitas, sebagai berikut: Ilmuwan dan teknolog hendaknya bersikap kritis, dan difasilitasi oleh negara agar terbentuk kelompok-kelompok intelektual yang aktif mengadakan kegiatan ilmiah, memperbanyak ilmuwan praktisi, mendorong apresiasi masyarakat terhadap ilmu-ilmu terapan dan teknologi tinggi, mendorong agar ilmuwan muslim melakukan interaksi dengan ilmuwan non muslim yang lebih maju guna mengambil manfaat.

Sedangkan Prof. Baiquni dalam bukunya Al Qur’an Ilmu Pengetahuan dan Teknologi menguraikan, ”Diantara sebab tertinggalnya umat Islam dalam bidang sains dan teknologi adalah:  Pertama, adanya dikotomi di kalangan ulama Islam yang mungkin tidak begitu memahami atau salah faham terhadap buah fikiran Imam Al Ghazali, sehingga mereka memisahkan ilmu-ilmu agama dari sains dan teknologi. Selain itu para ulama terdahulu, mereka adalah pakar dalam  bidang agama, dan juga sains. Adapun para ulama agama sekarang tidak begitu menguasai sains, sehingga mereka mencoba menjauhkan pengikut-pengikutnya dari pengaruh ahli ilmu kauniyah. Hal ini mereka buat agar terbebas dari pertanyaan-pertanyaan krtitis murid-murid mereka, sedangkan mereka tidak dapat menjawabnya. Kedua, embargo sains dan teknologi yang dibuat oleh negara-negara maju terhadap negara-negara berkembang, lebih-lebih lagi negara umat Islam,  sehingga jumlah pakar sains di negara-negara Islam jauh lebih kecil dari pada yang ada di negara-negara bukan Islam, Institusi pendidikan sains dan teknologi di negara-negara Islam jauh lebih kecil dari pada yang ada di negara-negara bukan Islam.”

Begitu juga dengan Profesor. BJ. Habibie, yang terkenal dengan alih teknologi, dengan berfokus pada penguasaan teknologi tingkat tinggi. Melalui empat tahapan alih teknologinya beliau mencoba mengejar ketertinggalan Indonesia dalam bidang sains dan teknologi, antara lain : Pertama, pembelian Lisensi untuk memproduksi barang-barang dagangan yang ada di pasar dunia, dengan design dan teknologi yang telah disiapkan oleh pihak penjual lisensi yang berada di dalam dan luar negeri. Kedua, integrasi teknologi baik yang diperoleh dari hasil pembelian lisensi maupun pengembangan sendiri yang memungkinkan modifikasi dan adaptasi untuk mendisain produk baru. Ketiga, penciptaan teknologi baru dengan mempergunakan kemampuan teknologi yang telah ada dalam bentuk himpunan lisensi. Keempat, hasil research, development dan terbina melalui pengalaman integrasi teknologi serta pengembangan sains secara besar-besaran untuk mempertahankan keunggulan teknologi yang telah dikuasai, sehingga produk-produk yang dihasilkan tetap unggul dan mampu bersaing di pasar dunia.

Tentu dunia dan Ummat Islam sangat berterima kasih dan berhutang budi terhadap kontribusi para ahli yang telah memetakan, bahkan mencoba menjalankan program-program dalam rangka mengatasi hal yang menjadi kelemahan ummat. Sebagai contoh Habibi, dengan program-programnya telah berhasil menciptakan teknologi tingkat tinggi yang diakui dunia, misalnya teknologi pesawat terbang.

Namun,  tawaran solusi ketiga tokoh tersebut masih belum sempurna untuk bisa membuat ummat ini bangkit dari keterpurukan ilmu pengetahuan. Alih teknologi adalah hal yang memang sangat dibutuhkan , terutama untuk mengejar ketertinggalan dalam sains terapan. Mungkin belajar dari Jepang, yang berhasil membangun teknologi dengan berkonsentrasi dalam mempelajari ilmu pengetahuan terapan yang praktis, sehingga dapat menghasilkan teknologi yang dibutuhkan manusia. Mencoba untuk membangun konstruksi sains dan teknologi pada masyarakat, serta melakukan langkah-langkah revolusioner dan fundamental dalam pendidikan iptek juga merupakan suatu langkah yang sangat baik, sebagaimana ditawarkan oleh Prof. Salam dan Prof. Baiquni.  Namun, dasar dari itu semua adalah bagaimana membangun keperibadian manusia.

Sejarah telah menunjukkan bagaimana Rasulullah Saw. dengan menggunakan ilmu dan kaedah wahyu dari Allah, telah mendidik para sahabat yang sebagaian besar buta huruf, terbelakang dalam ilmu pengetahuan, dibandingkan dengan negara lain saat itu. Tanpa ada institusi pendidikan formal, dan institusi-institusi Research and Development dalam berbagai bidang ilmu, tetapi telah sukses mendidik para sahabat menjadi pribadi unggul. Yang dilakukan oleh Rasul adalah menanamkan aqidah yang lurus dan mantap kepada para shahabat, serta akhlaq yang mulia, yang diiringi dengan ilmu-ilmu dan tugas-tugas lain yang sangat menyokong mereka untuk mengembangkan keahlian dan spesialisasi dalam bidang mereka masing-masing. Hasilnya, dalam waktu 30 tahun saja umat Islam menguasai 1/3 dunia. Romawi dan Persia jatuh ke tangan para sahabat di zaman Pemerintahan Saidina Umar bin Khattab. Kemudian banyak Ilmuan yang lahir dari negara-negara di luar Arab. Sejak itu, berkembanglah budaya Ilmiah Islam dalam masyarakat Islam. Inilah pembangunan manusia unggul yang dirintis oleh Rasul, sehingga dengan modal dasar tersebut, mereka dapat berkembang dan mengembangkan diri secara maksimal tanpa melupakan agama mereka.

Pandangan seperti ini adalah, pandangan yang berlandaskan dari sejarah sirah nabawiyah yang mengkaitkan secara erat kemajuan Islam dalam segala bidang, dengan pembangunan aqidah dan akhlaq bagi setiap individu muslim.

Selanjutnya, beberapa pakar dan ulama mencoba memasukkan unsur-unsur yang lebih mengedepankan persoalan moral, etika dan komitmen dalam menganalisa sebab keterpurukan Islam dalam bidang sains.

Menurut Muh Abduh, ”Kelemahan ini disebabkan oleh karena Ilmuwan Islam mengajarkan sesuatu yang tidak berlandaskan Islam, serta permasalahan ideologi dan aqidah yang diabaikan.” Menurut Abd. Hamid Ghazali,  yang dikutip oleh Abduh,  bahwa keberhasilan ulama dan cendekiawan muslim zaman dulu adalah karena mereka secara sungguh-sungguh mengabdikan dan memberikan jasa yang maksimal untuk kemajuan Islam. Abduh, dengan latar belakang yang kuat dalam bidang agama, lebih menekankan pada ideologi dan aqidah yang diabaikan oleh ummat dan ilmuwan muslim. Begitupun Abd Hamid Ghazali, lebih menekankan pada motivasi dan komitmen dari para ulama yang berbeda antara  dahulu dan sekarang. Hal ini mungkin saja karena kenyataan bahwa banyak saintis muslim yang cerdas dan mumpuni, namun mereka malah bekerja untuk kepentingan barat, atau tidak mau mencurahkan kemampuan mereka untuk memajukan ummat.

Pandangan yang mengedepankan permasalahan landasan agama, yaitu aqidah dan etika yang menjadi pendorong utama memang sangat rasional, mengingat dorongan agama Islam terhadap Ilmu pengetahuan begitu kuat.  Banyak perintah agama yang berkaitan dengan ilmu, keutamaan menuntut ilmu, bahkan sampai pada taraf wajib dalam menuntut ilmu, juga balasan bagi orang yang menuntut ilmu. Qardhawi bahkan menyatakan, bahwa Ilmu adalah agama, dan agama adalah Ilmu. Bagi penganut pandangan ini, keyakinan, akhlaq dan beragama yang tinggi, akan mendorong orang (sarjana Muslim ) mengembangkan ilmunya.

Hoodbhoy, dalam menganalisa lambannya kemajuan sains Islam, mengajukan beberapa hipotesis, yang menarik antara lain, sebab-sebab yang berkaitan dengan masalah sikap dan filsafat, konsep pendidikan, konsekuensi sifat khusus hukum Islam, materi, atau kelemahan tata sosial ekonomi tertentu dan sebab yang berasal dari sifat khusus politik dalam Islam. Sebab yang berkenaan dengan sikap masyarakat Islam misalnya, digambarkan adanya pergeseran dari masyarakat yang kritis, yang selalu berfikir dan memecahkan masalah, menjadi masyarakat yang fatalis, dan masyarakat yang utilitarianisme, melihat sains terapan dan meninggalkan sains murni. Padahal sains murni itulah yang merupakan dasar dari pengembangan sains terapan. Sains murni dianggap tidak bermanfaat. Padahal, zaman awal keemasan Islam dimulai dengan pengembangan filsafat sains, penerjemahan karya-karya filsafat, yang terlihat ”tidak berguna”, tetapi menjadi dasar yang kuat bagi pengembangan sains terapan.

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. A.    Kesimpulan

Dari analisis diatas, kita dapat menawarkan hipotesis beberapa sebab dasar yang menyebabkan umat Islam khususnya ilmuwan, teknolog dan industrialis Islam tertinggal dari umat selain Islam, diantaranya :

Motivasi atau pendorong yang salah dari pengembangan sains oleh para Ilmuwan dan Ummat Islam, Ilmu yang menjauh dari Islam dengan mengesampingkan sumber Ilmu yang berasal dari Allah, sebagaimana barat, sistem pendidikan yang kurang mendukung berkembangnya sains Islam, dan kurangnya dukungan dari penguasa terhadap sains Islam.

  1. B.     Saran

Sebagai seorang muslim kita harus menyadarkan diri kita khususnya akan pentingnya ilmu pengetahuan dan teknologi demi tercapainya tujuan manusia sebagai khalifah Allah di bumi dan menjunjung kembali martabat umat Islam yang berkomitmen “Al-Islaamu ya’luu wala yu’laa ‘alaih”.

 

 

Daftar Rujukan

Al-Quran Digital v.3.1

Baiquni, Achmad, Alqur’an, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Solo Dana Bhakti Wakaf, 1994M..

Effendi, Abdurrahman Riesdam & Gina Puspita, Membangun Sains dan Teknologi Menurut Kehendak Tuhan, Jakarta: Giliran Timur, 2007M..

Ghulsari, Mehdi, Filsafat Sains Menurut al-Qur’an, cet 7, Bandung: Mizan, 1994M..

http://www.google.co.id, diakses 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s