Mengatasi kejenuhan belajar siswa

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.    Latar Belakang

Belajar merupakan inti dari pendidikan. Tanpa belajar  tidak akan ada pendidikan. Karen belajar adalah proses untuk berubah dan berkembang. Setiap manusia sepanjang hiduonya baik sadar maupun tidak sadar harus selalu belajar. Karena hanya dengan belajar manusia dapat bertahan dalam persaingan hidup di dunia ini.

Dalam pendidikan formal dan non-formal proses belajar menajdi tanggung jawab pengajar di dalam kelas. Dalam proses belajar peserta didik tidak jarang ditemukan kendala-kendala dalam belajar. Salah satunya yang paling sering dijumpai adalah jenuh. Peserta didik seringkali merasakan kejenuhan dengan berbagai faktor penyebab, seperti mata pelajaran yang tidak disukai, guru yang tidak disukai, metode yang digunakan pendidik dan masih banyak lagi penyebab-penyebab lainnya.

Jika tidak diatasi, kejenuhan ini dapat menjadi penyebab turunnya prestasi peserta didik dan membuat tujuan belajar tidak tercapai. Untuk itu, sebagai seorang pendidik kita harus tahu dan menguasai cara mengatasi kejenuhan peserta didik dalam belajar.

  1. B.     Tujuan Penulisan

Secara umum penulisan makalah ini adalah untuk mengembangkan pengetahuan penulis dalam hal belajar efektif. Tetapi secara khusus penulis tujukan:

  1. Sebagai tugas mata kuliah psikologi pendidikan
  2. Memperdalam pemahaman terhadap hakikat belajar
  3. Membuka pengetahuan mengenai cara-cara mengatasi kejenuhan peserta didik

 

  1. C.    Rumusan Masalah

Demi kemudahan dalam penulisan makalah ini, penulis membatasi tulisan pada:

  1. Makna kejenuhan belajar
  2. Faktor-faktor penyebab kejenuhan kejenuhan peserta didik, dan
  3. Cara mengatasi kejenuhan belajar peserta didik.

 

 

  1. D.    Metode Penulisan

Metode penulisa yang penulis gunakan adalah studi literatur turut, dimana penulis berusaha mengungkapkan konsep-konsep baru dengan cara membaca dan mencatat informasi-informasi yang relevan dengan kebutuhan pembahasan. Bahan bacaan mencakup buku-buku teks, jurnal atau majalah-majalah ilmiah dan hasil-hasil penelitian (Pidarta, 1999: 3-4). Selain itu data diperoleh secara online dengan bantuan search engine.

  1. E.     Sistematika Penulisan

Penyusunan makalah ini disajikan dalam 3 (tiga) bab antara lain :

  1. Bab I Pendahuluan. (Latar Belakang, Tujuan Penulisan, Rumusan Masalah, Metodologi penulisan, Sistematika Penulisan Makalah)
  2. Bab II  Pembahasan
  3. Bab IV Penutup (Kesimpulan)
  4. Daftar pustaka

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.    Makna Kejenuhan Belajar.

Secara harfiah, kejenuhan belajar berasal dari dua kata yaiut “kejenuhan” dan “belajar”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995:411 & 14) kejenuhan adalah “padat atau penuh sehingga tidak mampu memuat lagi”, Selain itu, jenuh juga dapat berarti “jemu” atau “bosan”. Dalam belajar, disamping siswa sering mengalami kelupaan, ia juga terkadang mengalami peristiwa negatif lainnya yang disebut jenuh belajar yang dalam bahasa psikologi lazim disebut learning plateau atau plateau (baca: pletou) saja. Peristiwa jenuh ini kalau dialami seorang siswa yang sedang dalam proses belajar (kejenuhan belajar) dapat membuat siswa tersebut merasa telah memubazirkan usahanya. Jadi kejenuhan belajar ialah rentang waktu tertentu yang digunakan untuk belajar tetapi tidak mendatangkan hasil (Reber 1988).

Seorang siswa yang mengalami kejenuhan belajar merasa seakan-akan pengetahuan dan kecakapan yang diperoleh dari belajar tidak ada kemajuan. Tidak adanya kemajuan hasil belajar ini pada umumnya tidak berlangsung selamanya, tetapi dalam rentang waktu tertentu saja, misalnya seminggu. Namun tidak sedikit siswa yang mengalami rentang waktu yang membawa kejenuhan itu berkali-kali dalam satu periode belajar tertentu.
Seorang siswa yang sedang dalam keadaan jenuh sistem akalnya tidak dapat bekerja sebagaimana yang diharapkan dalam memproses item-item informasi atau pengalaman baru, sehingga kemajuan belajarnya seakan-akan “jalan di tempat”. Apabila kemajuan belajar yang jalan ditempat ini kita gambarkan dalam bentuk kurva, yang akan tampak adalah garis mendatar yang lazim disebut plateau. Kejenuhan belajar dapat melanda seorang siswa yang kehilangan motivasi dan konsolidasi salah satu tingkat keterampilan tertentu sebelum sampai pada tingkat keterampilan berikutnya.

  1. B.     Faktor-faktor penyebab kejenuhan dalam belajar siswa

Kejenuhan belajar dapat melanda siswa apabila ia telah kehilangan motivasi dan kehilangan kosolidasi salah satu tingkat keterampilan tertentu sebelum siswa tertentu sampai pada tinkat keterampilan berikutnya (Chaplin, 1972). Selain itu kejenuhan juga dapat terjadi karna proses belajar siswa telah sampai pada batas kemampuan jasmaniyahnya karena bosan (boring) dan keletihan (fatigue). Namun penyebab kejenuhan yang paling umum adalah keletihan yang melanda siswa, karena keletihan dapat menjadi penyebab munculnya perasaan bosan pada siswa yang bersangkutan. Menurut Cross (1974) dalam bukunya The Psychology of Learning, keletihan siswa dapat dikategorikan menjadi tiga macam yakni: 1) keletihan indera siswa; 2) keletihan fisik siswa; 3) keletihan mental siswa. Keletihan fisik dan keletihan indera dalam hal ini mata dan telinga pada umumnya dapat dikurangi atau dihilangkan lebih mudah setelah siswa beristirahat cukup terutama tidur nyenyak dan mengkonsumsi makanan dan minuman yang cukup bergizi. Sebaliknya, keletihan mental tak dapat diatasi dengan cara yang sederhana cara mengatasi keletihan-keletihan lainnya. Apakah yang menyebab kan siswa mengalami keletihan mental (mental fantigue) ? setidak nya ada empa factor penyebab keletihan mental siswa yakni :

  1. Karena kecemasan siswa terhadap dampak negative yang ditimbulkan oleh keletihan itu sendiri.
  2. Karena kecemasan siswa terhadap standar / patokan keberhasilan bidang bidang studi tertentu yang dianggap terlalu tinggi terutama ketika siswa tersebut sedang merasa bosan mempelajari bidang bidang studi tadi.
  3. Karena siswa berada di tengah tengah situasi kompetitif yang ketat dan menurut lebih banyak kerja intelek yang berat.
  4. Karena siswa mempercayai konsep kinerja akademik yang optimum, sedangkan dia sendiri menilai belajarnya sendiri hanya berdasarkan ketentuan yang ia bikin sendiri (self imposed ).

 

  1. C.    Cara mengatasi kejenuhan belajar pada peserta didik

Selanjutnya, keletihan mental yang menyebabkan munculnya kejenuhan belajar itu lazimnya dapat diatasi dengan menggunakan kiat kiat antara lain sebagai berikut :

  1. Melakukan istirahat dan mengkonsumsi makanan dan minuman yang bergizi dengan takaran yang cukup banyak.
  2. pengubahan dan penjadwalan kembali jam jam di hari hari belajar yang dianggap lebih memungkinkan siswa belajar lebih giat.
  3. Pengubahan atau penataan kembali lingkungan belajar siswa yang meliputi pengubahan posisi meja tulis, lemari, rak buku, alat alat perlengkapan belajar dan sebagainya sampai memungkinkan siswa merasa ada disebuah kamar baru yang lebih menyenangkan untuk belajar.
  4. Memberikan motivasi dan stimulasi baru agar siswa merasa terdorong untuk belajar lebih giat dari pada sebelumnya.
  5. Siswa harus berbuat nyata (tidak  menyerah atau tinggal diam) dengan cara mencoba belajar dan belajar lagi.

Disamping siswa wajib memerangi kejenuhan, guru mempunyai peranan penting dalam pendidikan, Oleh karena itu guru dapat melakukan kiat-kiat berikut jika peserta didiknya mulai terjangkit kejenuhan:

  1.  Jika siswa mulai kelihatan jenuh, ajaklah peserta didik kita untuk bermain sebentar, contohnya siswa diberi kebebasan membuat yel-yel, tepuk-tepuk  yang menurut mereka bisa menumbuhkan semangat belajar(3menit yel-yel diucapkan bersama)
  2. Sebelum pelajaran inti guru mengajak siswa dalam sebuah permainan yang berguna untuk memusatkan konsentrasi anak, contohnya guru menyebut gajah siswa mempraktekkan dengan gerakan dan ucapan kecil, ketika guru menyebut semut siswa merespon dengan gerakan dan ucapan besar. Hal itu bisa dicontohkan ke benda-benda lain.
  3. Mengajak siswa dalam suasana berbeda contoh guru tidak hanya monoton mengajar didalam kelas tetapi diluar kelaspun jadi asal siswa diajak untuk tetap bertanggungjawab & tetap komitmen belajar.
  4.  Siswa diberi tanggung jawab untuk melakukan menjelaskan materi yang sebelumnya dibuat tugas kelompok dan teman lainnya diajak untuk menilainya. Guru harus bisa mengarahkan dan mendorong sisiwa itu untuk lebihkreatif
  5.  Siswa diberi tanggung jawab untuk membuat soal sendiri dan diserahkan kepada gurunya, kemudian guru menyortir dan menggunakannya sebagai ulangan harian. Dari hasil evaluasi tersebut guru memberi nilai 80 kepada siswa yang pintar untuk mencapai nilai 100, siswa tersebut diberitanggung jawab untuk mengajari temannya yang nilainya kurang. Guru membimbing dan mengawasinya.

 

 

BAB III

PENUTUP

 

  1. A.    Kesimpulan

Kejenuhan adalah suatu hal yang dapat terjadi pada siapapun termasuk siswa. Sebagai seorang pengajar kita harus mengetahui faktor-faktor penyebab kejenuhan yang melanda peserta didik dan berusaha mengatasi kejenuhan tersebut. Salah satunya dengan memberikan suasana yang tidak membosankan dalam pemebelajaran serta menggunakan metode yang menyenangkan bagi siswa.

  1. B.     Saran

Sebagai pengajar kita harus kaya dengan metode pembelajaran supaya dapat mengatasi hal-hal yang menjadi kendala dalam pembelajaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s