Peletakan dasar-dasar Islam di masa Rasul SAW

  1. PENDAHULUAN

Tokoh nomor satu seantero dunia mulai zaman pra sejarah hingga akhir zaman, penyelamat manusia dari kegelapan dunia dan pembangun peradaban paling maju sepanjang sejarah dalam tempo yang singkat ternyat lahir di sebuah lembah yang tandus dan dalam masyarakat yang arogan dan amoral, yakni masyarakat jahiliyah. Kelahirannya merupakan cahaya baru bagi tatanan kehidupan manusia. Ajarannya membawa cahaya keilmuan dan menghapus kejahilan ummatnya. Dialah Muhammad SAW yang namanya selalu disebut sepanjang masa.

Masyarakat yang beliau bangun berawal dari masyarakat yang tidak bermoral dan dapat dikatakan sebagai masayarakat yang bejat. Namun berkat ajaran yang dibawa oleh beliau, masyarkat itu menjadi masyarakat yang unggul dan bermartabat. Perjuangan beliau bukan tanpa rintangan. Bahkan disebutkan bahwa rintangan atau cobaan yang dihadapi seorang nabi atau rasul merupakan cobaan terberat yang diberikan kepada seorang manusia. Berbagai rintangan tersebut beliau hadapi dengan tabah dan tentu saja dengan pertolongan Allah SWT pemilik alam ini.

Setelah peradaban baru telah terbentuk masih juga harus dihadapi kaum musyrik dan munafik yang mencoba menusuk dari belakang. Belum juga menghadapi tekanan dari luar yang begitu dahsyat. Sehingga sangat berat mempertahankan keutuhan masyarkat madani yang telah dibangun.

  1. BANGSA ARAB PRA ISLAM

Bangsa Arab merupakan penduduk asli jazirah Arabia, semenanjung yang terletak di kawasan Timur Tengah. Kawasan yang dikenal dengan gurun pasir dan cuaca yang ganas dan hampir tidak turun hujan sepanjang tahun. Gurun ini melahirkan bangsa yang keras.

Bangsa Arab adalah rumpun bangsa Smit, keturunan Sam Ibn Nuh AS. Serumpun dengan bangsa Babilonia, Kaldea, Asyura, Ibrani, Phunisia, Aram dan Habsyi. (Maman A. Malik Sya’roni: 2002). Bangsa Arab dibagi menjadi dua, yakni Baidah dan Baqiah. Arab Badiah telah punah jauh sebelum Islam(yang dibawa Nabi SAW) lahir. Tidak ada riwayat yang menggambarkan mereka kecuali yang terapat pada sya’ir-sya’ir kuno dan yang tertulis dalam kitab-kitab samawi. Diantara mereka adalah yang telah diceritakan dalam Al-Quran adalah bangsa ‘Ad dan Tsamud. Sedangkan Arab Baqiyah adalah bangsa Arab yang hingga kini ada. Bangsa in iterdiri dari Qathanniyah atau Yamaniyah dan Musta’ribah. Musta’ribah adalah keturunan Nabi Ismail. Disebut Musta’ribah karena sebenarnya Ismail AS bukan merupakan keturunan Arab, namun keturunan Ibrani yang dilahirkan dan dibesarkan di kota Mekkah.

Bangsa Arab menurut komunitasnya juga dibagi dua, yakni ahl al- badwi dan ahl al-hadlar. Ahl al-badwi hidup secara nomaden sehingga tidak sempat untuk membangun sebuah peradaban. Akibatnya sejarah yang menceritakan kehidupan mereka pun tidak jelas. Berbeda dengan ahl-badwi, ahl-hadlar menetap dan tinggal di kota-kota sehingga mereka dapat membangun peradaban-peradaban yang dapat ditelusuri sejarahnya.

Masyarakat Arab tersusun dari kabilah-kabilah yang beranggotakan keluarga besar yang terikat hub nasab dan darah. Namun acapkali anggota berasal dari perkawinan, suaka politik dan sumpah setia. Setiap kabilah dipimpin oleh tetua yang disebut syaikh al-qabilah. Bangsa arab terkenal dengan solidaritasnya. Tidak jarang pertikaian antar kabilah disebabkan hanya karena kesalahan salah satu anggota kabilah. Karena kesalahan salah satu anggota merupakan tanggung jawab seluruh kabilah.

Masa sebelum Islam, di arab disebut masa jahiliyah. Yang dimaksud jahiliyah disini bukanlah yang bermakna bodoh atau lawan kata ilm, namun yang dimaksud disini merupakan lawan kata hilm. Jadi maksud jahiliyah disini adalah sifat amoral yang telah melekat pada bangsa arab pra islam.

Setiap tahun di pasar Ukadh selalu diadakan lomba pembacaan syair. Tujuh syair terbaik ditulis dengan tinta emas dan digantung di dalam Ka’bah dekat dengan patung pujaan mereka.

Setiap tahun pula jamaah haji selalu membanjiri kota makkah. Hal ini menyebabkan berdirinya pemerintahan yang melindungi dan mengamankan jamaah haji yang datang. Kabilah-kabilah di Mekkah saling berebut kekuasaan tersebut.

Pada tahun 400M kabilah Quraisy di bawah pimpinan Qushai menguasai Ka’bah. Qushai mendirikan Dar an-Nadwah sebagai tempat musyawarah masyarakat Mekkah. Ia juga membentuk as-siqayah, ar-rifadlah, al-liwa’dan al-hijabah untuk mengatur segala urusan yang berhubungan dengan ka’bah.

Sebagian bangsa arab pada masa itu  merupakan bangsa pagan atau penyembah berhala. Meskipun ada sebagian yang beragama nasrani, yahudi , majusi dan sebagian kecil yang masih berpegang teguh pada tauhid yang dibawa oleh Nabi Ibrahim AS.

  1. MUHAMMAD SEBELUM KENABIAN

Rasul SAW adalah keturunan bangsawan Quraisy. Ayahnya bernama Abdullah Ibn Abd. Muthalib dan ibunya bernama Aminah binti Wahab. Garis kedua orang tuanya bertemu pada Kilab bin Murrah. Rasul SAW merupakan keturunan Nabi Ismail AS. Namun antara Nabi Ismail AS sampai pada Adnan tidak diketahui dengan jelas.

Nabi SAW dilahirkan di Makkah sebagai seorang Yatim pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awal Tahun Gajah, bertepatan dengan 20 April 571. Disebut tahun gajah, karena pada tahun itu Mekkah yang dijaga oleh Abd. Muthalib diserang oleh Abrahah dan pasukannya yang menunggang gajah. Namun serangan tersebut digagalkan Allah dengan mengirimkan pasukan burung ababil. hal ini disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Fiil.

Abdullah meninggal dunia setelah tiga bulan menikah dengan ibunda Nabi SAW. Abd. Muthalib memberikan nama Muhammad kepada cucunya, nama yang belum pernah ada sebelumnya. Pada usia 6 tahun ibunda tercinta meninggal dunia setelah mengajak beliau berziarah ke makam ayahandanya. Kemudian beliau SAW diasuh oleh Abd. Muthalib kakeknya. Namun dua tahun kemudian kakek beliau meninggalkan beliau juga. Kemudian tanggung jawab mengasuh Nabi SAW berada pada Abu Thalib, paman beliau.

Abu Thalib mengasuhnya seperti kepada anaknya sendiri. Budi pekerti Muhammad yang luhur, cerdas dan berbakti menarik perhatian sang paman.

Ketika Nabi SAW berusia 12 tahun, beliau ikut dalam rombongan dagang pamannya ke Syiria. Di Bushra Abu-Thalib bertemu dengan seorang pendeta kristen yang bernama Buhaira. Setelah Buhaira melihat tanda-tanda kenabian yang terdapat pada diri Nabi SAW, pendeta itu memperingatkan Abu-Thalib untuk menjaga Nabi dari orang-orang Yahudi Syria jika mereka tahu tanda-tanda itu akan mencelakai atau bahkan membunuh Nabi SAW.

Pada usia 15 tahun beliau SAW telah ikut dalam peperangan yang terjadi antara suku Quraisy dengan kabilah Hawazin. Perang ini disebut perang Fijar yang artinya pendurhakaan. Disebut demikian karena terjadi pada bulan-bulan yang diharamkan. Pada usia 24 tahun, Abu Bakar menawarkan beliau kepada Khadijah untuk menjalankan perdagangan saudagar kaya itu ke Syria. Abu-Thalib meminta upah untuk Muhammad SAW lebih besar dari orang biasanya. Karena tertarik akan pribadi dan keluhuran budi beliau SAW Khadijah setuju. Saat itu beliau ditemani oleh Maisarah, salah seorang pegawai Khadijah yang amat dipercaya.

Metoda berdagang yang dilakukan Nabi Saw menarik banyak pembeli sehingga dagangan yang dibawanya habis terjual. Kekaguman Khadijah kepada Nabi SAW menimbulkan hasrat untuk menjadikan beliau SAW pendamping hidupnya. Ia menyuruh Nafisah menjumpai Abu-Thalib untuk menyampaikan maksud tersebut. Setelah beliau SAW setuju dan pamannya merestui, pernikahan pun dilaksanakan. Pada saat itu beliau SAW berusia 25 tahun dan Khadijah berusia 40 tahun.

Saat berusia 35 tahun terjadi peristiwa yang menarik. Tatkala masyarakat Quraisy merenovasi Ka’bah, terjadilah perebutan peletakan hajar aswad oleh pemuka-pemuka Quraisy. Pertumpahan darah hampir saja terjadi dan menimbulkan perang saudara. Peperangan tersebut dapat dicegah saat Abu Umayyah ibn Mughirah al-Makhzumi mengusulkan agar keputusan dilakukan oleh siapapun yang pertama kali memasuki pintu Shafa. Ternyata yang memasuki pitu tersebut adalah Muhammad SAW. Maka semua pemuka Quraisy pun setuju usul tersebut karena Muhammad SAW terkenal dengan kejujurannya.

  1. DIANGKAT MENJADI RASULULLAH

Beliau SAW memiliki kebiasaan yang tidak dilakukan orang-orang pada waktu itu, yaitu berkhalwat atau menyendiri. Lokasi yang dijadikan tempat berkhalwat beliau jauh dari hiruk pikuk kota Makkah, berada di gunung Tsur. Tepatnya di gua Hira. Pada malam Senin 17 Ramadlan 13SH bertepatan pada 6 Agustus 610M, datanglah wahyu pertama yang dibawa oleh Malaikat Jibril. Wahyu tersebut adalah Surat Al-Alaq. Dengan demikian, beliau resmi diangkat menjadi nabi. Namun belum mendapatkan kewajiban untuk menyampaikan risalah. Setelah kejadian tersebut beliau segera pulang dengan hati cemas karena ketakutan. Beliau meminta istrinya untuk menyelimutinya. Kemudian beliau SAW menceritakan kejadian yang dialaminya di gua Hira. Khadijah menenangkan beliau kemudian meninggalkannya dalam keadaan tertidur dan menemui saudara sepupunya yang bernama Waraqah ibn Naufal. Sepupunya tersebut mengatakan bahwa yang datang kebapa Nabi Saw adalah Namus (Jibril) yang pernah diutus kepada Nabi Musa AS. Ia pun memberitahukan bhawa suatu saat Nabi SAW akan diusir dari kampungnya. Ia berharap masih hidup dan berjanji akan memeri pertolongan pada saat itu terjadi.

 

  1. DAKWAH ISLAM DAN REAKSI QURAISY

Dakwah yang dilakukan Rasul SAW ditempuh dalam tiga periode. Pertama, sembunyi-sembunyi, kedua semi terbuka dan ketiga dakwah secara terbuka. Dakwah secara sembunyi-sembunyi dilakukan Rasul SAW dengan mengajak keluarga yang tinggal serumah dengan beliau agar meninggalkan agama berhala dan kembali kepada agama tauhid. Dalam fase ini yang pertama menyatakan beriman adalah Khadijah, Ali ibn Abi Thalib dan Zaid ibn Haritsah. Kemudian disusul dari kalangan sahabat, Abu Bakar, Utsman ibn Affan, Zubair ibn Awam, Saad ibn Abi Waqash, Thalhah ib nUbaidillah, Abd. Rahman ibn Auf, Abu Ubaidah ibn Jarrah, Arqam ibn Abi al-Arqam, Bilal ibn Rabbah dan beberapa penduduk Makkah lainnya. Beliau mengajarkan Islam di rumah Arqam ibn Abi al-Arqam. Dakwah sembunyi-sembunyi ini dilakukan selama tiga tahun.

Dalam tahap semi terbuka, Rasul SAW menyeru keluarganya dalam lingkup yang lebih besar. Yang menjadi sasaran adalah Bani Hasyim. Sesudah itu Rasul mengawali dakwah terbuka. Sejak saat itu Islam mulai menjadi perhatian dan perbincangan masyarakat Mekkah. Dalam pada itu, Rasul terus meningkatkan dakwahnya kepada setiap orang yang datang ke Mekkah.

Setelah semakin banyak orang yang masuk Islam dan pengaruh Islam semakin mengancam agama berhala. Orang-orang Quraisy mulai terkejut dan mulai khawatir sehingga dengan berbagai macam cara berusaha menghentikan dakwh Rasul SAW. Menurut Syallabi yang dikutip oleh Maman A. Malik Sya’roni dalam bukunya, ada lima faktor yang menyebabkan orang Quraisy menghalang-halangi dakwah Rasul SAW:

  1. Persaingan pengaruh kekuasaan. Mereka belum bisa membedakan antara kenabian dengan kerajaan.
  2. Persamaan derajat. Bangsawan Quraisy belum siap menerima ajaran yang meruntuhkan tradisi dan dasar-dasar kehidupan mereka.
  3. Takut dibangkitkan setelah mati. Orang-orang Quraisy takut ajaran yang mengatakan bahwa setelah mati manusia akan dimintai pertanggung jawaban amal di dunia.
  4. Taklid kepada nenek moyang. Bangsa Arab menganggap bahwa ajaran nenek moyang merupakan sesuatu hal yang mutlak dan tidak boleh diganggu gugat.
  5. Perniagaan patung. Para pengrajin berhala merasa terancam jika Islam berkembang dan tidak ada lagi yang membeli patung-patung untuk disembah.

Segala usaha yang dilancarkan orang Quraisy tidak dapat menghentikan dakwah Nabi. Hal ini dikarenakan Nabi selalu dilindungi oleh Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Oleh karena itu mereka memboikot dua keluarga besar tersebut dengan memutuskan hubungan ekonomi sosial dan politik. Hal ini menyebabkan dua keluarga Bani Hasyim dan Bani Muthalib ini merasakan sengsara. Pemboikotan in iberakhir ketika Zuhair ibn Umayyah dan beberapa kawannya mengambil surat pemboikotan itu dari Ka’bah dan merobeknya.

Setelah itu, paman nabi dan istri beliau meninggal dunia. Oleh karena itu, tahun tersebu tdinamakan ‘aam al-huzn. Setelah dua orang pendukung utama Rasul SAW tersebu tiada, orang Qurasiy semakin berani menentang Rasul SAW, bahkan menganiaya beliau.

Pada saat menghadapi ujian berat tersebut, Allah SWT menghibur beliau dengan meng-isra’-kan beliau SAW ke Palestina dan meng-Ijra’kan beliau ke sidratul muntaha. Pada peristiwa tersebut, beliau SAW menerima perintah shalat lima waktu. Peristiwa ini menjadi bahan tertawaan orang-orang kafir dan menjadi ujian bagi orang yang beriman.

  1. ORANG-ORANG YATSRIB MASUK ISLAM

Pada musim haji, Rasul SAW selalu mendakwahkan Islam kepada jamaah haji dari luar Makkah. Aktifitas ini mendapat respon dari Suwaid ibn Shamit, seorang tokoh Aus dari Yatsrib. Selang beberapa lama setelah itu masuklah Iyas ibn Mu’adz, pemuda Khazraj. Aus dan Khazraj adalah dua kabilah yang selalu bertikai.  Kedua kabilah ini sedikit banyak sudah mengetahui tentang kenabian, kerasulan wahyu dan hari akhir. Karena berinteraksi dengan kaum Yahudi yang banyak menghuni daerah Yatsrib.

Pada musim haji tahun 11 setelah kenabian. Beberapa orang Khazraj menyatakan masuk Islam. Sejak itu, Islam dan Rasul SAW telah menjadi perbincangan hangat di Yatsrib. Pada musim haji tahun berikutnya, 12 orang laki-laki dan seorang perempuan dari Yatsrib masuk Islam.  Mereka menemui Rasul SAW di Aqabah, dan disana mereka dibaiat oleh Rasul SAW, peristiwa ini dikenal dengan Baiah Aqabah Ula. Setelah itu Rasul SAW memerintahkan Mus’ab ibn Umair untuk mengajarkan Islam di Yatsrib. Setahun kemudian, terjadi baiah a-aqabah al-tsaniyah. 73 orang laki-laki dan dua orang perempuan mengikuti baiat tersebut.

  1. HIJRAH KE YASTSRIB

Setelah baiat kedua tekanan orang kafir semakin menjadi-jadi sehingga Rasul menganjurkan para sahabatnya untuk segera pindah ke Yatsrib. Kelompok pertama yang berangkat adalah kelompok orang-orang lemah karenan mereka yang paling menderita. Rasul SAW sendiri berangkat setelah semua kaum muslimin berangkat kecuali Ali RA dan keluarga serta Abu Bakr RA dan keluarganya. Ketika akan berangkat, Rasul meminta Ali untuk menggantikan tidur di bilik Rasul SAW untuk mengelabui musuh.

Beliau SAW dan Abu Bakr bersembunyi di gua Tsur selama tiga malam. Putra-putri Abu Bakr dan sahayanya yang mengirimkan makanan setiap malam dan menyampaikan kabar tentang keadaan di Mekkah. Setelah itu, beliau menempuh jalan yang belum pernah atau jarang dilalui oelh kabilah.

Senin, 8 Rabiul Awal Rasulullah SAW tiba di Quba, sekitar 10 kmdari kota Yatsrib. Di situ beliau mendirikan masjid pertama atas saran dari Amr ibn Yasir. Tiga hari kemudian, Ali ibn Abi Thalib tiba di Quba. Keesokan harinya, Jumat 12 Rabiul Awal bertepatan dengan 24 September 622 M rombongan ini melanjutkan perjalanan ke Yatsrib.

Kedatangan Rasul SAW disambut hangat penuh kerinduan oleh kaum Anshar. Begitu tiba di kota ini beliau melepaskan tali kekang unta yang ditungganginya, dan membiarkan binatang itu berjalan sekehandaknya. Unta itu berhenti di kebun yang ditumbuhi beberapa pohon kurma, bersebelahan dengan rumah Abhu Ayyub. Di lahan ini dibangunlah masjid atas perintah Rasul SAW. Sejak kedatangan Rasul SAW, kota Yatsrib berubah menjadi Madinah al-Rasul atau al-Madinah al-Munawarah.

  1. PELETAKAN DASAR-DASAR PERADABAN ISLAM

Pekerjaan yang dilakukan Rasul SAW dalam periode ini adalah pembinaan terhadap masyarakat Islam yang baru terbentuk. Dalam masyarakat ini ditanamkan dasar-dasar kebudayaan Islam,sehingga terwujud masyarakat Islam yang kokoh dan kuat. Dasar-dasar yang ditanamkan beliau adalah nilai dan norma yang mengatur manusia dan masyarakat yang bersumberdari Al-Quran dan Hadits.

Lembaga utama yang dibangun pertama kali oleh Rasul Saw adalah masjid. Selain sebagi tempat ibadah, masjid juga menjadi tempat berkumpulnya masyarakat untuk menuntut ilmu, membahas permasalah  dan lain sebagainya.

Muhammad SAW selain sebagai Nabi dan Rasul, juga merupakan ahli politik yang ulung. Hal ini dibuktikan dengan perjanjian damai dengan penduduk non-muslim. Saling melindungi dari serangan luar.

Di dalam internal muslim sendiri beliau SAW menerapkan beberapa asas, yaitu al-ikha, al-musawah, al-tasamuh, al-tasyawur, al-ta’awun dan al-adalah.

  1. MEMPERTAHANKAN MASYARAKAT MADANI

Selain keberhasilan yang dicapai di Madinah, juga terdapat ancaman terhadap integritas muslim. Yaitu rongrongan dari orang-orang Yahudi yang tidak terima karena Allah mengutus Rasul terakhirnya dari bangsa Arab. Usaha mereka untuk mengahncurkan umat Islam dan Rasul SAW tidak berhasil. Tipu daya mereka terbongkar dan kedudukan Rasul Saw semakin kuat. Setelah tipu muslihat tidak berhasil, mereka membuat keonaran, menghasut dan memprovokasi masyarakat Madinah. Mereka melanggar perjanjian yang telah disepakati bersama Rasul SAW. Bani Qainuqa yang pertama kali melanggar perjanjian tersebut. Akhirnya mereka dikepung oleh pasukan muslim selama 15 hari, sebelum akhirnya mereka diusir dari Madinah.

Setahun kemudian, Amr ibn Jahsy dari bani Nadlir mencoba membunuh Nabi Saw dengan menjatuhkan batu dari atas tembok tempat beliau dan sahabatnya beristirahat. Namun upaya tersebut gagal. Atas usaha tersebut, mereka diusir dari Madinah. Nabi SAW mengijinkan mereka membawa harta benda yang dapat dibawa oleh seekor unta. Pengusiran tersebut menyebabkan mereka bersekutu dengan kabilah-kabilah Arab yang memusuhi Islam. Sekutu tersebut akhirnya mengepung Madinah pada tahun 5 H. Peristiwa ini disebut perang Ahzab. Dalam peristiwa ini, kaum muslimin terancam kelaparan. Dalam situasi sulit ini, atas hasutan Huyai ibn Akhtahab, pemimpin Bani Quraidhah membatalkan perjanjian dengan Rasul SAW dan bersekutu dengan penyerang. Dengan demikian kaum muslimin terjepit antara musuh dari depan dan belakang.

Untuk mengantisipasi kmungkinan terjadi serangan ulang kaum Yahudi setelah perang Ahzab. Rasul SAW menyerang pemukiman-pemukiman kaum Yahudi di Khaibar, Fadak, Taima dan Wadil Qura.

Selain rongrongan dari Yahudi umat Islam pun menghadapi rongrongan dari kaum munafiq. Pengaruh mereka tidak terlalu besar. Namun jika dibiarkan akan membahayakan integritas umat Islam. Terhadap kaum munafiq ini rasul SAW bersikap lunak sambil berusaaha untuk menyadarkan mereka. Usaha ini tidak sia-sia, hal ini dibuktikan dengan tidak adanya lagi sifat-sifat munafiq setelah Abdullah ibn Ubay meninggal.

Belum lagi rongrongan dari kafir Quraisy yang tidak berhenti saja setelah pindahnya kaum muslimin ke Madinah. Atas dasar itu, turunlah ayat yang mengijinkan kaum muslimin untuk memerangi kaum kafir sebagai sikap membela diri. Perang sebagai jawaban atas permusuhan kaum kafir terjadi pertama kali di lembah Badr tanggal 17 Ramadlan 2 H. Perang ini dimenangkan kaum muslimin.

Sementara kaum Quraisy memberikan tekanan dari luar. Bani Nadlir mencoba melakukan pembunuhan terhadap diri Rasul SAW. Namun gagal dan mereka diusir dari Madinah kemudian mereka bersekutu dengan kafir Quraisy. Bulan Syawal 5 H 14000 tentara dipimpin Abu Sufyan menyerbu Madinah. Menghadapi serangan ini, Rasul SAW memilih bertahan di dalam kota. Atas saran Salman Al-Farisi kaum muslim menggali parit untuk menahan pasukan kafir. Serangan ini tidak menghasilkan apa-apa bagi kaum kafir.

  1. PERJUANGAN PASCA PERANG AHZAB

Setelah perang Ahzab, Rasulullah SAW bersama dengan 10000 sahabatnya berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Terjadilah perjanjian Hudaibiyah dengan pokok-pokok perjanjian sebagai berikut:

  1. Segala permusuhan antara kedua belah pihak dihentikan selama 10 tahun
  2. Setiap orang quraisy yang datang ke Madinah tanpa seijin walinya harus dipulangkan
  3. Setiap orang muslim yang mneyerahkan diri kepada kaum Quraisy tidak dikembalikan
  4. Setiap kabilah yang ingin bersekutu dengan kedua belah pihak tidak boleh dihalangi
  5. Kaum muslim tidak boleh memasuki Mekah tahun ini, namun diberi kesempatan tahun berikutnya dengan syarat tidak membawa senjata.
  6. HAJI WADA’

Setelah tercipta ketenangan di seluruh jazirah Arab menyusul pengakuan Islam dari kabilah-kabilah Arab yang mencapai puncaknya pada ‘am al-wufud, Rasulullah bermaksud menunaikan ibadah haji ke Baitullah. Pada tanggal 25 Dzul Qa’dah 10 H. Beliau bersama 100000 sahabatnya berangkat menuju Mekkah.

Tepat tengah hari di Arafah, beliau menyampaikan pidato amat penting, yang ternyata merupakan pidatonya yang terakhir di hadapan khalayak. Pidato ini disebut khutbatul wada’.

Kira-kira tiga bulan setelah menunaikan haji terakhir tersbut, Rasul SAW menderita demam beberapa hari. Beliau menunjuk Abu Bakr menggantikan beliau mengimami shalat jamaah. Pada hari Senin 12 Rabiul Awal 11 H. Bertepatan dengan 8 Juni 632 M. Rasul Menghembuskan nafasnya yang terakhir, menghadap kehadirat Allah SWT dalam usia 63 tahun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s